<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" ID="7220">
<titleInfo>
<title>AKAD NIKAH WANITA HAMIL DAN AKIBAT HUKUMNYA PADA ANAK DALAM PERWALIAN DAN WARISAN</title>
</titleInfo>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>Syarif Hidayatullah</namePart>
<role><roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm></role>
</name>
<typeOfResource manuscript="yes" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
<genre authority="marcgt">bibliography</genre>
<originInfo>
<place><placeTerm type="text">serang-banten</placeTerm></place>
<publisher>Fakultas syariah dan ekonomi islam IAIN SMH Banten</publisher>
<dateIssued>2004</dateIssued>
<issuance>monographic</issuance>
<edition></edition>
</originInfo>
<language>
<languageTerm type="code">id</languageTerm>
<languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
</language>
<physicalDescription>
<form authority="gmd">Text</form>
<extent>21.5cm, 28cm, 68hlm</extent>
</physicalDescription>
<note>Nama: Syarif Hidayatullah, NIM: 00315598, Judul skripsi: Akad Nikah Wanita Hamil dan Akibat Hukumnya Pada Anak Dalam Perwalian dan Kewarisan.

Wanita hamil yang diceraikan oleh suaminya tidak boleh menikah kecuali setelah masa Iddahnya selesai yaitu melahirkan anak. Menurut Madzhab Imam Bin Hambal berpendapat, bahwa wanita pezinah yang hendak kawin itu harus selesai masa iddahnya (masa iddah tersebut dalam rangka instibra), yaitu satu kali haid setelah itu terjadi setelah nikah (akad walaupun mungkin akadnya pasif, sebab campurnya pezina itu dalam perkawinan, karena itu perlu indah,  Malik mengharamkan dengan alasan untuk menjaga tercampurnya pezina itu dalam perkawinan, karena itu perlu iddah, Malik mengharamkan dengan alasan untuk menjaga tercampurnya sperma yang halal dan haram. Berbeda dengan Asy-Syafi'yah beliau membolehkan akad nikah tersebut dan campur lantaran keduanya, dengan alasan sebab pergaulan yang pertama (zinah) itu tidak dianggap (ada tidak bernilai). Akibat pernikahan tersebut apabila bayi itu lahir kurang dari 6 bulan maka tidak bsia dihubungkan kekerabatannya kepada Bapaknya sekalipun dalam akibat pernikahan yang sah dalam KHI PASAL 100. Anak yang lahir di luar perkawinan hanya mempunyai hubungan nasab dengan ibu dan keluarganya.</note>
<subject authority=""><topic>PERNIKAHAN WANITA HAMIL</topic></subject>
<classification>SKRIPSI ASY 245</classification><identifier type="isbn"></identifier><location>
<physicalLocation>UIN SMH Banten Perpustakaan Pusat</physicalLocation>
<shelfLocator>SKRIPSI ASY 245</shelfLocator>
<holdingSimple>
<copyInformation>
<numerationAndChronology type="1">SKRIPSI ASY 245</numerationAndChronology>
<sublocation>My Library (4)</sublocation>
<shelfLocator>SKRIPSI ASY 245</shelfLocator>
</copyInformation>
</holdingSimple>
</location>
<recordInfo>
<recordIdentifier>7220</recordIdentifier>
<recordCreationDate encoding="w3cdtf">2016-01-26 15:15:24</recordCreationDate>
<recordChangeDate encoding="w3cdtf">2016-01-26 15:15:49</recordChangeDate>
<recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo></mods></modsCollection>