Detail Cantuman Kembali
Konsep Kesadaran Diri Menurut Ibnu Sina dan William James
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya fenomena krisis identitas dan masalah kesehatan mental yang dialami manusia modern, seperti kegelisahan eksistensial, depresi, dan alienasi diri. Pemahaman tentang kesadaran diri menjadi penting sebagai landasan untuk menemukan jati diri, membangun ketenangan batin, dan menjaga kesehatan mental. Fokus kajian ini adalah bagaimana Ibnu Sina dan William James mendefinisikan kesadaran diri, apa persamaan dan perbedaannya, serta bagaimana relevansinya dengan kehidupan manusia masa kini. Dalam tradisi filsafat Islam klasik, Ibnu Sina memandang kesadaran diri sebagai sifat bawaan jiwa yang immaterial dan independen dari tubuh, sebagaimana dibuktikan melalui eksperimen “manusia melayang” yang menegaskan eksistensi jiwa. Sementara itu, William James menekankan aspek psikologis-empiris melalui konsep stream of consciousness serta pembedaan antara “I” (diri sebagai subjek) dan “Me” (diri sebagai objek). Penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan dengan pendekatan deskriptif-komparatif. Data primer diperoleh dari karya-karya Ibnu Sina seperti Asy-Syifa’ (Ilmu al-Nafs) serta karya William James seperti The Principles of Psychology. Data sekunder berasal dari buku, jurnal, dan penelitian terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun berasal dari tradisi yang berbeda, Ibnu Sina dan William James sama-sama menempatkan kesadaran diri sebagai inti identitas manusia. Persamaannya terletak pada penekanan aspek reflektif dan spiritual, sedangkan perbedaannya terletak pada fondasi epistemologis: Ibnu Sina berlandaskan metafisika jiwa, sementara James pada psikologi empiris. Relevansi pemikiran keduanya masih kuat hingga kini, terutama dalam menjawab problem krisis identitas dan kesehatan mental. Pemikiran Ibnu Sina dapat menjadi dasar dalam memperkuat moral- spiritual dan pendidikan karakter, sedangkan gagasan William James memberi kontribusi pada pengembangan psikologi modern, konseling, dan terapi berbasis kesadaran. Dengan demikian, penelitian ini menunjukkan bahwa dialog lintas tradisi antara filsafat Islam klasik dan filsafat Barat modern mampu menawarkan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai hakikat kesadaran diri manusia.
Shafira Nurwahidah - Personal Name
SKRIPSI AFI 127
128
Text
Indonesia
2025
serang
xxvii + 112 hlm.; 18 x 25 cm
LOADING LIST...
LOADING LIST...







