<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" ID="32084">
<titleInfo>
<title>Analisis Gender Terhadap Pakaian dan Properti Pada Film R.A. Kartini Karya Hanung Bramantyo.</title>
</titleInfo>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>Ayu Lestari</namePart>
<role><roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm></role>
</name>
<typeOfResource manuscript="yes" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
<genre authority="marcgt">bibliography</genre>
<originInfo>
<place><placeTerm type="text">serang</placeTerm></place>
<publisher></publisher>
<dateIssued>2025</dateIssued>
<issuance>monographic</issuance>
<edition></edition>
</originInfo>
<language>
<languageTerm type="code">id</languageTerm>
<languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
</language>
<physicalDescription>
<form authority="gmd">Text</form>
<extent>xv + 83 hlm.; 18 x 25 cm</extent>
</physicalDescription>
<note>Film tidak hanya berfungsi sebagai media hiburan, tetapi juga sebagai ruang representasi budaya yang memuat konstruksi gender melalui tanda-tanda visual, seperti pakaian dan properti. Film R.A. Kartini karya Hanung Bramantyo merepresentasikan kehidupan perempuan Jawa dalam struktur patriarki, sehingga elemen visual dalam film menjadi penting untuk dianalisis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna pakaian dan properti dalam film R.A. Kartini menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes serta melihat representasi gender tokoh Kartini melalui tanda-tanda visual tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan semiotika Roland Barthes yang meliputi makna denotasi, konotasi, dan mitos, serta didukung teori gender Mansour Fakih untuk membaca relasi kuasa dan ketidakadilan gender. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pakaian, khususnya kebaya, menjadi simbol pengekangan perempuan dalam budaya patriarki sekaligus simbol kewibawaan saat Kartini memasuki ruang publik. Properti seperti buku, surat, dan pena merepresentasikan resistensi terhadap pembatasan akses pendidikan. Setting ruang domestik menandai pembatasan peran perempuan, sementara ruang publik menunjukkan pergeseran peran gender. Pada level mitos, pakaian dan properti bekerja sebagai perangkat ideologis yang menormalisasi patriarki sekaligus menjadi medium perlawanan Kartini.</note>
<classification>302</classification><identifier type="isbn"></identifier><location>
<physicalLocation>UIN SMH Banten Perpustakaan Pusat</physicalLocation>
<shelfLocator>SKRIPSI KPI 1202</shelfLocator>
<holdingSimple>
<copyInformation>
<numerationAndChronology type="1">SKRIPSI KPI 1202</numerationAndChronology>
<sublocation>My Library</sublocation>
<shelfLocator>SKRIPSI KPI 1202</shelfLocator>
</copyInformation>
</holdingSimple>
</location>
<recordInfo>
<recordIdentifier>32084</recordIdentifier>
<recordCreationDate encoding="w3cdtf">2026-08-05 14:25:00</recordCreationDate>
<recordChangeDate encoding="w3cdtf">2026-08-31 09:36:41</recordChangeDate>
<recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo></mods></modsCollection>