Detail Cantuman Kembali

XML

Relevansi Penghambaan dan Kekhalifahan Manusia (Studi Komparatif Penafsiran Ibn ‘Asyur dan Thabathaba’i)


Manusia diciptakan oleh Allah dengan dua dimensi utama, yaitu sebagai
‘abd (hamba) dan khalifah (pemimpin) di bumi. Kedua konsep ini menempati posisi
penting dalam memahami hakikat keberadaan manusia dalam al-Qur’an. Namun,
pemahaman terhadap konsep penghambaan dan kekhalifahan seringkali
menimbulkan perbedaan tafsir di kalangan ulama, baik dalam dimensi teologis
maupun sosial. Oleh karena itu, penelitian ini berupaya mengkaji relevansi antara
penghambaan dan kekhalifahan manusia melalui analisis komparatif terhadap
penafsiran Ibn ‘Asyur dan Thabathaba’i, dua mufasir besar yang memiliki corak
tafsir dan latar intelektual berbeda.
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana Ibn ‘Asyur dan
Thabathaba’i menafsirkan konsep penghambaan dan kekhalifahan manusia dalam
al-Qur’an, serta bagaimana relevansi kedua konsep tersebut dalam kehidupan
manusia modern. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan persamaan
dan perbedaan penafsiran keduanya, sekaligus menggali nilai-nilai teologis dan
moral yang terkandung dalam pandangan mereka terhadap peran manusia sebagai
hamba dan khalifah Allah di bumi.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan
komparatif tafsir. Data diperoleh melalui studi kepustakaan terhadap karya utama
kedua mufasir, yaitu al-Taḥrīr wa al-Tanwīr karya Ibn ‘Asyur dan al-Mīzān fī Tafsīr
al-Qur’ān karya Thabathaba’i, serta literatur pendukung lain yang relevan. Analisis
dilakukan dengan menelusuri ayat-ayat terkait konsep ‘ubūdiyyah dan khilāfah,
kemudian membandingkan corak, metode, serta konteks penafsiran masing-masing
mufassir.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ibn ‘Asyur menekankan penghambaan
manusia sebagai bentuk kepatuhan dan ketaatan total kepada Allah yang menjadi
dasar bagi peran kekhalifahan di bumi, sedangkan Thabathaba’i menafsirkan
penghambaan sebagai manifestasi kesempurnaan spiritual yang menjadikan manusia
layak menjadi khalifah Allah. Keduanya sepakat bahwa penghambaan dan
kekhalifahan merupakan dua aspek yang saling melengkapi dalam membentuk
kesempurnaan eksistensi manusia. Relevansinya di masa kini terletak pada
pentingnya menyeimbangkan dimensi spiritual dan sosial agar manusia mampu
menjalankan tanggung jawab ilahiah secara utuh.
Ummu Wahdah - Personal Name
SKRIPSI IAT 704
2x1.46
Text
Indonesia
2025
Serang Banten
xix + 92 hlm.; 18 x 25 cm
LOADING LIST...
LOADING LIST...