<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" ID="31952">
<titleInfo>
<title>Metodologi Tafsir Bil Ma'tsur Periode Klasik dan Kontemporer (Studi Komparatif Kitab Tafsīr Rūḥ Al-Ma‘Ānī dan Al-Miṣbāḥ)</title>
</titleInfo>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>Azizah Ayu Widyanti</namePart>
<role><roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm></role>
</name>
<typeOfResource manuscript="yes" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
<genre authority="marcgt">bibliography</genre>
<originInfo>
<place><placeTerm type="text">serang</placeTerm></place>
<publisher></publisher>
<dateIssued>2025</dateIssued>
<issuance>monographic</issuance>
<edition></edition>
</originInfo>
<language>
<languageTerm type="code">id</languageTerm>
<languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
</language>
<physicalDescription>
<form authority="gmd">Text</form>
<extent>xxii + 93 hlm.; 18 x 25 cm</extent>
</physicalDescription>
<note>Metode tafsīr bil ma’tsūr mengkaji perbandingan penerapan dalam dua karya besar dari dua periode berbeda: Rūḥ Al-Ma‘Ānī karya al-Ālūsī pada era klasik dan Al-Miṣbāḥ karya M. Quraish Shihab pada era kontemporer. Fokus utama kajian ini adalah menelusuri kesinambungan penggunaan metode riwayat dalam penafsiran Al-Qur’ān di tengah dinamika zaman yang terus berkembang. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui penelitian kepustakaan dengan teknik analisis perbandingan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa al-Ālūsī menerapkan tafsīr bil ma’tsūr dengan sangat kuat, didukung oleh pendalaman terhadap aspek kebahasaan, gramatikal, dan rujukan mufasir terdahulu seperti al-Ṭabarī, al-Zamakhsyarī, dan Fakhruddīn al-Rāzī. Sementara itu, Quraish Shihab tetap mengacu pada tafsīr bil ma’tsūr namun memadukannya dengan metode tematik dan pendekatan kontekstual yang relevan dengan kondisi masyarakat modern. Perbedaan mencolok terletak pada gaya penyajian, struktur penafsiran, dan orientasi pembahasan dari masing-masing mufasir. Dari perbandingan tersebut, dapat disimpulkan bahwa metode tafsīr bil ma’tsūr memiliki karakter yang lentur dan adaptif, memungkinkan untuk terus digunakan dalam konteks zaman yang berubah tanpa kehilangan akar tradisi keilmuannya. Kedua pendekatan menunjukkan bahwa riwayat tetap menjadi pijakan penting dalam memahami wahyu, sekaligus membuka ruang bagi penafsiran yang relevan dan fungsional bagi umat masa kini.</note>
<classification>2x1.3</classification><identifier type="isbn"></identifier><location>
<physicalLocation>UIN SMH Banten Perpustakaan Pusat</physicalLocation>
<shelfLocator>SKRIPSI IAT 699</shelfLocator>
<holdingSimple>
<copyInformation>
<numerationAndChronology type="1">SKRIPSI IAT 699</numerationAndChronology>
<sublocation>My Library</sublocation>
<shelfLocator>SKRIPSI IAT 699</shelfLocator>
</copyInformation>
</holdingSimple>
</location>
<recordInfo>
<recordIdentifier>31952</recordIdentifier>
<recordCreationDate encoding="w3cdtf">2026-07-07 14:58:27</recordCreationDate>
<recordChangeDate encoding="w3cdtf">2026-07-07 14:59:44</recordChangeDate>
<recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo></mods></modsCollection>