Detail Cantuman Kembali
Hubungan Memaafkan dengan Kesehatan Mental Remaja Kp. Pelopor
Masa remaja merupakan fase transisi dari anak-anak menuju dewasa yang ditandai dengan perubahan emosional, sosial, dan psikologis yang kompleks. Salah satu peristiwa yang sering dialami pada masa ini adalah putus cinta, yang dapat menimbulkan berbagai emosi negatif seperti sedih, marah, kecewa, hingga stres. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi kesehatan mental remaja, terutama jika individu belum mampu menerima dan memaafkan pengalaman yang menyakitkan tersebut. Memaafkan menjadi salah satu aspek penting yang berperan dalam pemulihan psikologis, karena membantu individu mengubah pikiran, perasaan, serta perilaku negatif menjadi lebih positif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) tingkat memaafkan remaja Kp. Pelopor yang pernah mengalami putus cinta. 2) tingkat kesehatan remaja Kp. Pelopor yang pernah mengalami putus cinta. 3) hubungan antara memaafkan dengan kesehatan mental pada remaja Kp. Pelopor yang pernah mengalami putus cinta. Fenomena putus cinta sering kali menimbulkan tekanan emosional pada remaja, seperti kesedihan, kekecewaan, hingga gangguan pada kesehatan mental. Salah satu faktor yang diduga dapat membantu menjaga kestabilan mental setelah mengalami putus cinta adalah kemampuan untuk memaafkan. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif korelasional dengan jumlah responden sebanyak 44 remaja yang dipilih menggunakan teknik sampling jenuh dimana seluruh anggota populasi menjadi sampel. Instrumen yang digunakan meliputi skala memaafkan dan skala kesehatan mental yang telah di uji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data menggunakan uji korelasi Pearson Product Moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang cukup kuat antara memaafkan dengan kesehatan mental remaja Kampung Pelopor yang pernah mengalami putus cinta, nilai koefisien korelasi (r) sebesar 0,595 dengan signifikansi (Sig. 2-tailed) sebesar 0,001 yang berada di bawah taraf signifikansi 0,01. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara variabel X dan variabel Y. Nilai korelasi 0,595 termasuk dalam kategori cukup kuat, sehingga dapat diartikan bahwa semakin tinggi skor pada variabel X maka cenderung semakin tinggi pula skor pada variabel Y, dan sebaliknya. Dengan demikian, hipotesis yang menyatakan adanya hubungan antara kedua variabel tersebut diterima.
Qonita Nurul Liza - Personal Name
SKRIPSI BKI 1231
155.5
Text
Indonesia
2025
serang
xv + 90 hlm.; 18 x 25 cm
LOADING LIST...
LOADING LIST...







