Detail Cantuman Kembali

XML

Nilai Keislaman dalam Seni Tradisional Debus di Menes Pandeglang (Studi Kasus Debus di Padepokan Maung Pande)


Tradisi Debus merupakan salah satu warisan budaya khas Banten yang
memiliki dimensi religius dan filosofis mendalam. Kesenian ini pada awalnya berakar
pada tradisi lokal yang bersifat magis, namun sejak masa Sultan Maulana Hasanuddin,
Debus mengalami proses islamisasi dan dimanfaatkan sebagai media dakwah untuk
menyebarkan ajaran Islam melalui doa, dzikir, serta pembacaan ayat suci Al-Qur’an.
Seiring perkembangan zaman, makna spiritual Debus mengalami pergeseran dan sering
dipersepsikan sebagai pertunjukan mistis semata. Penelitian ini bertujuan untuk
mengkaji nilai-nilai keislaman yang terkandung dalam seni tradisional Debus di Menes,
Pandeglang, serta memahami bagaimana prosesi, simbol, dan pandangan masyarakat
terhadap pertunjukan Debus tersebut.
Penelitian ini bertujuan untuk menjawab beberapa rumusan masalah yaitu: 1.
Bagaimana gambaran prosesi dan simbol dalam tradisi Debus di Padepokan Maung
Pande, Menes Pandeglang? 2. Bagaimana nilai keislaman dan nilai budaya yang ada
dalam tradisi Debus di Padepokan Maung Pande, Menes Pandeglang?3. Bagaimana
pandangan masyarakat mengenai tradisi Debus di Padepokan Maung Pande Menes,
Pandeglang? Metodologi penelitian yang digunakan oleh peneliti ialah penelitian
kualitatif dengan jenis pendekatan studi kasus dan teknik yang digunakan yaitu dengan
cara observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis dilakukan dengan menafsirkan
makna-makna yang muncul dalam setiap tahapan prosesi, simbol-simbol yang
digunakan, serta pandangan masyarakat dalam konteks nilai-nilai keislaman dan budaya
lokal.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertunjukan Debus terdiri dari beberapa
tahap, yaitu persiapan, pembukaan dengan doa dan dzikir, pemanasan melalui gerakan
silat, pertunjukan inti berupa atraksi kekebalan tubuh, dan penutupan dengan doa
penyucian. Setiap tahap mengandung nilai spiritual dan simbolik yang menggambarkan
perpaduan antara ajaran Islam dan budaya lokal. Nilai keislaman yang terkandung di
dalamnya mencakup ketakwaan, tawakal, kesabaran, keberanian, serta keyakinan
bahwa segala kekuatan hanya berasal dari Allah SWT. Sementara itu, unsur budaya
lokal seperti penggunaan bunga tujuh rupa, minuman tujuh rasa, dan mantra tradisional
menunjukkan keberlanjutan nilai-nilai leluhur yang diharmonisasikan dengan ajaran
Islam.
Handewi Ayu Pramesti - Personal Name
SKRIPSI KPI 1191
2X6.7
Text
Indonesia
2025
Serang Banten
xIII+ 77 hlm.; 18 x 25 cm
LOADING LIST...
LOADING LIST...