<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" ID="31706">
<titleInfo>
<title>Debus:</title>
<subTitle>Menjaga Kelestarian Budaya Lokal, Studi di Prisen Kiara Walantaka.</subTitle>
</titleInfo>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>Adelia</namePart>
<role><roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm></role>
</name>
<typeOfResource manuscript="yes" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
<genre authority="marcgt">bibliography</genre>
<originInfo>
<place><placeTerm type="text">serang</placeTerm></place>
<publisher></publisher>
<dateIssued>2025</dateIssued>
<issuance>monographic</issuance>
<edition></edition>
</originInfo>
<language>
<languageTerm type="code">id</languageTerm>
<languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
</language>
<physicalDescription>
<form authority="gmd">Text</form>
<extent>xiii + 122hlm.: 18 x 25 cm</extent>
</physicalDescription>
<note>Debus merupakan seni pertunjukan tradisional masyarakat Banten yang menggabungkan unsur spiritualitas Islam, kekuatan magis, serta nilai-nilai budaya lokal. Kesenian ini dikenal dengan atraksi ekstrem seperti menyayat tubuh dengan senjata tajam, membakar diri, memakan kaca, hingga berjalan di atas bara api. Filosofi yang mendasari Debus adalah keyakinan bahwa kekuatan hanya datang dari Allah, sebagaimana diyakini dalam tarekat Rifa’iyah. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, eksistensi Debus mulai mengalami penurunan, terutama akibat menurunnya minat generasi muda terhadap tradisi lokal. Kondisi ini mendorong perlunya upaya pelestarian agar Debus tetap menjadi bagian dari warisan budaya Banten. Penelitian ini dilakukan di Kampung Prisen, Kelurahan Kiara, Kecamatan Walantaka, yang masih aktif melestarikan Debus melalui padepokan dan komunitas seni tradisional. Berdasarkan latar belakang tersebut, dirumuskan tiga permasalahan utama dalam penelitian ini, yaitu: (1) bagaimana pengertian Debus menurut masyarakat Prisen-Walantaka; (2) bagaimana asal-usul permainan Debus di wilayah tersebut; dan (3) bagaimana bentuk pelestarian Debus yang dilakukan oleh masyarakat setempat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan secara mendalam ketiga aspek tersebut sebagai bagian dari upaya dokumentasi dan penguatan identitas budaya lokal. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kebudayaan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui survei, observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi literatur. Analisis data dilakukan secara deskriptif untuk memahami peran Debus dalam konteks sosial, budaya, dan keagamaan masyarakat Banten. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Debus masih memiliki kedudukan penting dalam kehidupan masyarakat Kampung Prisen, terutama sebagai sarana pelatihan spiritual dan simbol identitas kultural. Pelestariannya dilakukan melalui latihan rutin di padepokan, peran aktif tokoh adat, serta pengenalan Debus kepada generasi muda melalui pertunjukan dan pembinaan seni. Dengan demikian, meskipun tantangan modernisasi terus hadir, masyarakat Prisen-Walantaka berkomitmen untuk menjaga keberlanjutan Debus sebagai kesenian religius magis yang mencerminkan nilai-nilai lokal dan spiritualitas Islam. Kata Kunci: Debus, Budaya Lokal, Pelestarian, Banten.</note>
<classification>902</classification><identifier type="isbn"></identifier><location>
<physicalLocation>UIN SMH Banten Perpustakaan Pusat</physicalLocation>
<shelfLocator>SKRIPSI SPI 682</shelfLocator>
<holdingSimple>
<copyInformation>
<numerationAndChronology type="1">SKRIPSI SPI 682</numerationAndChronology>
<sublocation>My Library</sublocation>
<shelfLocator>SKRIPSI SPI 682</shelfLocator>
</copyInformation>
</holdingSimple>
</location>
<recordInfo>
<recordIdentifier>31706</recordIdentifier>
<recordCreationDate encoding="w3cdtf">2026-04-29 10:57:13</recordCreationDate>
<recordChangeDate encoding="w3cdtf">2026-05-11 09:57:09</recordChangeDate>
<recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo></mods></modsCollection>