<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" ID="31673">
<titleInfo>
<title>Makna dan Implementasi Tadharru’ dan Khufyāh dalam 
Tafsir Al-Ibrīz Karya KH. Bisrī Musṭafa</title>
</titleInfo>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>Yeni Ayu Nur Mahmudah</namePart>
<role><roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm></role>
</name>
<typeOfResource manuscript="yes" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
<genre authority="marcgt">bibliography</genre>
<originInfo>
<place><placeTerm type="text">Serang Banten</placeTerm></place>
<publisher></publisher>
<dateIssued>2025</dateIssued>
<issuance>monographic</issuance>
<edition></edition>
</originInfo>
<language>
<languageTerm type="code">id</languageTerm>
<languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
</language>
<physicalDescription>
<form authority="gmd">Text</form>
<extent>xxi + 93 hlm.; 18 x 25 cm</extent>
</physicalDescription>
<note>Penelitian ini membahas penafsiran  KH. Bisrī Musṭafa terhadap 
konsep taḍarru„ dan khufyah dalam Tafsir al-Ibrīz, sebuah karya tafsir 
berbahasa Jawa Pegon yang berkembang dalam tradisi pesantren di 
Nusantara. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis makna 
taḍarru„ dan khufyah dalam ayat-ayat Al-Qur‟an yang relevan serta 
mengungkap pengaruh tafsir klasik dan sosio-kultural terhadap penafsiran  
KH. Bisrī Musṭafa. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif 
dengan pendekatan tematik (tafsīr maudhū„ī).  
Hasil penelitian menunjukkan bahwa  
KH. Bisrī Musṭafa 
menafsirkan taḍarru„ sebagai sikap batin yang merendah, tunduk, dan 
penuh kesadaran akan kelemahan diri di hadapan Allah, sedangkan 
khufyah dimaknai sebagai bentuk doa atau zikir yang pelan, tersembunyi, 
dan tidak mencolok. Penafsiran ini tidak hanya dipengaruhi oleh rujukan 
tafsir klasik seperti al-Jalalayn dan al-Khazin, tetapi juga sangat kental 
dengan nilai-nilai sosio-kultural masyarakat Jawa, seperti pentingnya 
kesopanan, dan ketenangan batin.   
KH. Bisrī Musṭafa juga menggunakan tingkatan bahasa Jawa 
(ngoko, krama, krama inggil) secara kontekstual untuk mencerminkan 
relasi sosial tokoh dalam ayat, sehingga tafsirnya tidak hanya informatif, 
tetapi 
juga 
edukatif dan membumi. Penafsiran tersebut turut 
mencerminkan proses adaptasi nilai-nilai universal Al-Qur‟an ke dalam 
budaya lokal melalui bahas. Dengan demikian, Tafsir al-Ibrīz dapat 
dipahami sebagai karya tafsir yang tidak hanya menjelaskan isi ayat, 
tetapi juga menjawab kebutuhan masyarakat.</note>
<classification>2x1.3</classification><identifier type="isbn"></identifier><location>
<physicalLocation>UIN SMH Banten Perpustakaan Pusat</physicalLocation>
<shelfLocator>SKRIPSI IAT 690</shelfLocator>
<holdingSimple>
<copyInformation>
<numerationAndChronology type="1">SKRIPSI IAT 690</numerationAndChronology>
<sublocation>My Library</sublocation>
<shelfLocator>SKRIPSI IAT 690</shelfLocator>
</copyInformation>
</holdingSimple>
</location>
<recordInfo>
<recordIdentifier>31673</recordIdentifier>
<recordCreationDate encoding="w3cdtf">2026-04-17 15:32:28</recordCreationDate>
<recordChangeDate encoding="w3cdtf">2026-04-20 09:54:42</recordChangeDate>
<recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo></mods></modsCollection>