<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" ID="31661">
<titleInfo>
<title>تقدم الخبر على المبتدأ عند الكوفيين و البصريين</title>
</titleInfo>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>Saeful Imam</namePart>
<role><roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm></role>
</name>
<typeOfResource manuscript="yes" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
<genre authority="marcgt">bibliography</genre>
<originInfo>
<place><placeTerm type="text">Serang Banten</placeTerm></place>
<publisher></publisher>
<dateIssued>2025</dateIssued>
<issuance>monographic</issuance>
<edition></edition>
</originInfo>
<language>
<languageTerm type="code">ar</languageTerm>
<languageTerm type="text">Bahasa Arab</languageTerm>
</language>
<physicalDescription>
<form authority="gmd">Text</form>
<extent>xvi + 58 hlm.; 18 x 25 cm</extent>
</physicalDescription>
<note>Terjadi perbedaan pandangan antar ulama atau madzhab. pemahaman akan 
perbedaan-perbedaan ini sangat penting, karena ketidaktahuan akan 
perbedaan pada taqdimul Khobar ala mubtada dapat berpengaruh pada 
ketidaktahuan kedudukan kata dalam kalimat dan hal ini juga berakibat pada 
pemaknaan kata.  
Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk membahas dan menjelaskan 
perbedaan pendapat yang terjadi pada dua madzhab nahwu yaitu basrah dan 
kufah, kenapa perbedaan itu terjadi dan mencari letak perbedaanya. Penelitian 
ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan sintaksis untuk 
menemukan titik perbedaan, penelitian ini juga menggunakan kitab dan jurnal 
yang sudah terpublish ataupun belum sebagai data primer dan sekunder.  
Hasil penelitian Ulama Kufah berpendapat bahwa tidak boleh 
mendahulukan khabar terhadap mubtada, baik mufrad atau jama’, seperti  قائم  Sedangkan ulama Bashrah berpendapat bahwa boleh mendahulukan .زي
د
khabar terhadap mubtada, baik mufrad atau jama’. Ulama Kufah menjelaskan 
alasan bahwa tidak boleh mendahulukan khabar terhadap mubtada, baik 
mufrad atau jama’, karena itu menunjukkan pada pendahuluan dhamir isim 
dan mengakhirkan yang dzahir. Dan sudah tentu bahwa susunan dhamir isim 
adalah setelah dzahirnya. Maka wajib bahwa tidak boleh mendahulukannya. 
Adapun ulama Bashrah menjelaskan alasan bahwa boleh mendahulukan 
khabar terhadap mubtada, baik mufrad atau jama’, karena telah banyak hal 
tersebut terdapat di dalam ungkapan orang Arab dan dalam sya’ir-sya’ir, 
seperti في بيته يؤتى الحكم, maka dalam ungkapan tersebut mendahulukan 
khabar dan mengakhirkan mubtada, pada dasarnya adalah بيته في يؤتى الحكم.</note>
<subject authority=""><topic>Mubtada Khobar</topic></subject>
<classification>492</classification><identifier type="isbn"></identifier><location>
<physicalLocation>UIN SMH Banten Perpustakaan Pusat</physicalLocation>
<shelfLocator>SKRIPSI BSA 539</shelfLocator>
<holdingSimple>
<copyInformation>
<numerationAndChronology type="1">SKRIPSI BSA 539</numerationAndChronology>
<sublocation>My Library</sublocation>
<shelfLocator>SKRIPSI BSA 539</shelfLocator>
</copyInformation>
</holdingSimple>
</location>
<recordInfo>
<recordIdentifier>31661</recordIdentifier>
<recordCreationDate encoding="w3cdtf">2026-04-15 14:15:41</recordCreationDate>
<recordChangeDate encoding="w3cdtf">2026-04-15 14:27:06</recordChangeDate>
<recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo></mods></modsCollection>