Detail Cantuman Kembali
Analisis Subjective Well-Being pada Perempuan yang Menikah Muda di Kota Cilegon
Subjective well-being adalah ketika individu mengevaluasi, melakukan penilaian,
atau memberi pandangan terhadap kehidupannya yang mencakup kepuasan hidup,
afek positif, dan afek negatif. Fenomena menikah muda masih banyak ditemui di
masyarakat, baik karena faktor diri sendiri, sosial, pendidikan, ekonomi, maupun
hamil diluar nikah. Perempuan yang menikah di usia muda belum sepenuhnya
memiliki kesiapan emosional yang cukup, sehingga tidak mudah dalam menghadapi
berbagai dinamika dalam hubungan rumah tangganya. Ketidaksiapan ini sering kali
berujung pada konflik yang berkepanjangan dan akhirnya terjadi perceraian.
Dengan demikian penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran dan faktor-
faktor yang mempengaruhi subjective well-being pada perempuan yang menikah
muda di Lingkungan Ciora Wetan, Kota Cilegon. Penelitian ini menggunakan
metode kualitatif dengan jenis pendekatan fenomenologi. Jumlah subjek pada
penelitian ini sebanyak 4 perempuan yang menikah muda dan informan sebanyak 8
orang dengan menggunakan teknik purposive sampling. Teknik pengumpulan data
dilakukan melalui observasi dan wawancara mendalam terhadap subjek. Kemudian
menggunakan reduksi data, penyajian data serta penarikan kesimpulan yang
digunakan untuk menganalisis data. Penelitian ini juga menggunakan teknik
triangulasi sumber untuk memvalidasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
keseluruhan subjek memiliki subjective well-being yang cukup baik. Mereka merasa
bersyukur dan bahagia terhadap kehidupan pernikahan yang dijalaninya, meskipun
harus menghadapi berbagai dinamika rumah tangga. Faktor eksternal yang paling
berpengaruh terhadap kesejahteraan subjektif mereka adalah dukungan sosial,
terutama dari suami dan keluarga. Dukungan tersebut memberikan rasa aman,
motivasi, dan keyakinan bahwa mereka mampu menjalani kehidupan pernikahan
dengan baik. Selain itu, faktor internal seperti kebersyukuran, forgiveness,
kepribadian, harga diri dan spiritualitas juga berperan besar dalam menjaga
keseimbangan emosional. Namun, penelitian ini juga menemukan bahwa beberapa
subjek mengalami afek negatif seperti seperti kecemasan, kesedihan, dan
kemarahan dalam kehidupan pernikahan. Bentuk emosi negatif tersebut umumnya
muncul karena faktor keluarga, masa depan, ekonomi, dan komunikasi dengan
pasangan.
Erni Sakinawati - Personal Name
SKRIPSI BKI 1215
155
Text
Indonesia
2025
Serang Banten
xiii + 76 hlm.; 18 x 25 cm
LOADING LIST...
LOADING LIST...







