Detail Cantuman Kembali

XML

Penerapan Metode Baghdadi dan Metode Tilawati dalam Meningkatkan Kemampuan Tahsin Al-qur’an


Pembelajaran tahsin al-Qur’an merupakan bagian penting dalam pendidikan pesantren sebagai upaya menanamkan kemampuan membaca al-Qur’an secara benar sesuai kaidah tajwid, makharijul huruf, dan adab tilawah. Dalam praktiknya, lembaga pendidikan Islam menggunakan berbagai metode pembelajaran, dua di antaranya yang banyak diterapkan adalah metode Baghdadi dan metode Tilawati. Keduanya memiliki
karakteristik yang berbeda dalam pendekatan, tahapan, dan strategi pengajaran. Fokus penelitian mencakup tiga rumusan masalah, yaitu: (1) bagaimana penerapan metode
Baghdadi dalam meningkatkan kemampuan tahsin Al-Qur’an; (2) bagaimana penerapan
metode Tilawati dalam meningkatkan kemampuan tahsin Al-Qur’an; dan (3) bagaimana
kemampuan tahsin Al-Qur’an santri dalam menggunakan kedua metode tersebut.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan metode Baghdadi dan metode Tilawati dalam meningkatkan kemampuan tahsin Al-Qur’an di Pondok Pesantren Nurul Hidayah Bani Rijah dan Pondok Pesantren Darul Mu’minin Nusantara Cilegon.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Lokasi penelitian berada di dua pondok pesantren, yaitu Pondok Pesantren Nurul Hidayah Bani Rijah (yang menerapkan metode Baghdadi) dan Pondok Pesantren Darul Mu’minin Nusantara Cilegon (yang menggunakan metode Tilawati). Responden dalam penelitian
ini terdiri dari 27 santri yaitu 15 santri pengguna metode Baghdadi dan 12 santri pengguna metode Tilawati. Subjek penelitian terdiri dari pimpinan pesantren, guru
ngaji, dan santri. Penelitian ini dilaksanakan selama empat bulan, yaitu dari Juni hingga September 2025.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) metode Baghdadi efektif dalam
membentuk dasar kemampuan membaca Al-Qur’an, terutama dalam penguasaan
makharijul huruf dan pengenalan struktur bacaan dasar melalui pendekatan drill (latihan
berulang). Metode ini menumbuhkan ketelitian dan ketepatan pelafalan huruf, meskipun
cenderung menimbulkan kejenuhan apabila tidak divariasikan. Sementara itu; 2) metode
Tilawati terbukti lebih efektif dalam meningkatkan kelancaran dan keindahan bacaan
(tartil), karena menggabungkan unsur lagu rost dan pendekatan klasikal-individual yang
interaktif. Santri lebih antusias, aktif, dan cepat menguasai bacaan dengan pendekatan
yang komunikatif dan sistematis; 3) Data yang didapat dalam Tingkat kemmapuan
Tahsin menunjukkan bahwa rata-rata kemampuan tahsin santri dengan metode
Baghdadi mencapai skor 79,8, sedangkan dengan metode Tilawati mencapai 84,7. Hasil
ini
memperlihatkan bahwa metode Tilawati lebih unggul dalam membangun
kemampuan membaca Al-Qur’an secara menyeluruh, baik dari segi makharijul huruf
(ketepatan bunyi huruf), tajwid (penerapan hukum bacaan), maupun waqaf (ketepatan
berhenti dan melanjutkan bacaan). Namun, kedua metode tetap memiliki nilai
pedagogik yang penting dan dapat saling melengkapi apabila diterapkan sesuai konteks
dan kebutuhan santri. Kesimpulan dari penelitian bahwa peningkatan kemampuan tahsin
Al-Qur’an tidak hanya bergantung pada metode yang digunakan, tetapi juga pada
kualitas guru, intensitas latihan, serta lingkungan belajar yang mendukung. Diharapkan
hasil penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan bagi lembaga pendidikan Islam
dalam mengembangkan model pembelajaran Al-Qur’an yang efektif, dinamis, dan sesuai dengan karakteristik peserta didik.
Muhammad Muflih - Personal Name
TESIS PAI 517
2X1.122
Text
Indonesia
2025
Serang Banten
xviii + 206 hlm.; 18 x 25 cm
LOADING LIST...
LOADING LIST...