<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" ID="31539">
<titleInfo>
<title>Konseling Behavioristik dengan Teknik Self Management pada Mahasiswa Broken Home yang Mengalami Emosi Negatif (Studi di Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten)</title>
</titleInfo>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>Dika Salsabila</namePart>
<role><roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm></role>
</name>
<typeOfResource manuscript="yes" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
<genre authority="marcgt">bibliography</genre>
<originInfo>
<place><placeTerm type="text">serang</placeTerm></place>
<publisher></publisher>
<dateIssued>2025</dateIssued>
<issuance>monographic</issuance>
<edition></edition>
</originInfo>
<language>
<languageTerm type="code">id</languageTerm>
<languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
</language>
<physicalDescription>
<form authority="gmd">Text</form>
<extent>xiv + 136 hlm.; 18 x 25 cm</extent>
</physicalDescription>
<note>Fenomena broken home menjadi salah satu penyebab utama munculnya berbagai gangguan emosional pada mahasiswa, seperti kemarahan, kecemasan, kesedihan yang mendalam, bahkan berujung pada depresi. Ketidakharmonisan dalam keluarga, perceraian orang tua, atau kurangnya dukungan emosional dari lingkungan keluarga dapat memicu ketidakstabilan psikologis yang signifikan. Emosi negatif tersebut tidak hanya mengganggu kondisi mental mahasiswa, tetapi juga dapat menghambat proses perkembangan diri, menurunkan kemampuan dalam membangun interaksi sosial yang sehat, serta berdampak buruk pada prestasi akademik. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan di Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten, ditemukan beberapa mahasiswa yang menunjukkan gejala-gejala emosi negatif yang kuat, yang ditelusuri berasal dari latar belakang keluarga broken home. Kondisi ini menegaskan pentingnya upaya penanganan yang tepat, terutama melalui pendekatan konseling yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimana kondisi emosi negatif yang dialami oleh mahasiswa broken home? (2) Bagaimana pelaksanaan konseling behavioristik dengan teknik self management terhadap mahasiswa broken home? dan (3) Bagaimana kondisi psikologis mahasiswa broken home setelah mendapatkan layanan? Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengetahui kondisi emosi pada mahasiswa broken home, (2) Mendeskripsikan pelaksanaan konseling behavioristik dengan teknik self management, dan (3) Mengetahui kondisi psikologis mahasiswa broken home setelah mendapatkan layanan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Subjek penelitian adalah mahasiswa broken home yang menunjukkan gejala emosi negatif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa yang berasal dari keluarga broken home mengalami berbagai bentuk emosi negatif, seperti kemarahan yang berlebihan, kekecewaan mendalam terhadap situasi keluarga, serta perasaan tidak dihargai dan kurang mendapat kasih sayang. Emosi emosi tersebut muncul secara intens dan berulang, sehingga memengaruhi sikap dan perilaku mereka dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam konteks akademik, sosial, maupun spiritual. Emosi negatif ini menyebabkan mahasiswa menjadi mudah tersinggung, menarik diri dari lingkungan sosial, dan kesulitan dalam mengelola stres. Mahasiswa broken home cenderung mengalami kondisi emosi negatif yang cukup kompleks, seperti rasa sedih, marah, kecewa, dan kecemasan yang berulang. Kondisi ini dipengaruhi oleh pengalaman konflik dan perpecahan keluarga yang mereka alami sejak lama. Emosi negatif tersebut terkadang sulit mereka kendalikan dan dapat memengaruhi kesejahteraan psikologis serta aktivitas sehari-hari. Pelaksanaan konseling behavioristik dengan teknik self management pada mahasiswa broken home berlangsung dengan tahapan pengenalan teknik pengendalian diri, pelaksanaan pencatatan emosi, serta evaluasi perilaku dan penguatan motivasi diri. Teknik ini diaplikasikan dengan arahan konselor untuk membantu mahasiswa meningkatkan kesadaran terhadap perilaku dan emosi negatif, serta mengubahnya secara bertahap melalui target-target kecil dan penguatan positif. Kondisi psikologis mahasiwa broken home setelah mendapatkan layanan cukup baik bagi sebagian mahasiswa yang memiliki motivasi tinggi dan kesiapan psikologis dalam mengelola emosinya. Namun, bagi mahasiswa dengan trauma emosional yang lebih dalam dan kompleks, teknik ini kurang memberikan perubahan yang signifikan. Hal ini mengindikasikan bahwa konseling dengan teknik ini perlu dilengkapi dengan pendekatan psikoterapi yang lebih holistik, terutama untuk subjek dengan kondisi psikologis yang berat.</note>
<classification>158</classification><identifier type="isbn"></identifier><location>
<physicalLocation>UIN SMH Banten Perpustakaan Pusat</physicalLocation>
<shelfLocator>SKRIPSI BKI 1206</shelfLocator>
<holdingSimple>
<copyInformation>
<numerationAndChronology type="1">SKRIPSI BKI 1206</numerationAndChronology>
<sublocation>My Library</sublocation>
<shelfLocator>SKRIPSI BKI 1206</shelfLocator>
</copyInformation>
</holdingSimple>
</location>
<recordInfo>
<recordIdentifier>31539</recordIdentifier>
<recordCreationDate encoding="w3cdtf">2026-03-04 14:46:00</recordCreationDate>
<recordChangeDate encoding="w3cdtf">2026-03-04 14:46:13</recordChangeDate>
<recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo></mods></modsCollection>