Detail Cantuman Kembali
Analisis Kesalahpahaman Bimbingan dan Konseling di Pondok Pesantren Kota Cilegon
Pondok pesantren adalah lembaga pendidikan yang berbasis agama Islam mempunyai
peran yang sangat penting dalam pembentukan karakter dan kepribadian santri, melihat
permasalahan yang sangat kompleks dimana semua orang harus berjuang lebih ketat
agar dapat bertahan hidup untuk itu bimbingan dan konseling harus berkembang secara
baik, melihat permasalahan santri mulai dari diri sendiri, teman, prestasi, orang orang
terdekatnya seperti orang tua dan berbagai macam permasalahan lain nya. Di
lingkungan sekolah, peran guru bimbingan dan konseling adalah sebagai pendamping
atau penasihat, sementara di pondok pesantren, tanggung jawab wali asuh atau
pengasuh yang mengelola aktivitas para santri, mulai dari bangun tidur sampai tidur
kembali, menjadwalkan ngaji kitab, hafalan, tadribul khitobah, dan termasuk kegiatan
bimbingan konseling, di beberapa pondok pesantren yang melakukan kegiatan
bimbingan konseling yaitu pengasuhan itu sendiri. Tujuan penelitian ini yaitu untuk
mengetahui kesalahpahaman bimbingan dan konseling di pondok pesantren kota
Cilegon dan untuk mengetahui seberapa besar tingkat kesalahpahaman bimbingan dan
konseling di pondok pesantren kota Cilegon, peneliti menggunakan metode penelitian
kuantitatif deskriptif, terdapat 15 kesalahpahaman BK di pondok pesantren kota
Cilegon (Al-Hasyimiyah dan Al-Fath) yaitu dan berada pada tingkat sedang yaitu
bimbingan dan konseling disamakan saja dengan atau dipisahkan sama sekali dari
pendidikan, konselor sekolah dianggap sebagai polisi sekolah, bimbingan dan konseling
dianggap semata-mata sebagai proses pemberian nasihat, bimbingan dan konseling
dibatasi pada hanya menangani masalah yang bersifat insidental, bimbingan dan
konseling dibatasi hanya untuk klien-klien tertentu saja, bimbingan dan konseling
hanya melayani orang sakit dan kurang normal, bimbingan dan konseling bekerja
sendiri, konselor harus aktif, sedangkan pihak lain pasif, menganggap pekerjaan
bimbingan dan konseling dapat dilakukan oleh siapa saja, pelayanan bimbingan dan
konseling berpusat pada keluhan pertama saja, menyamakan pekerjaan bimbingan dan
konseling dengan pekerjaan dokter atau psikiater, menyamaratakan cara pemecahan
masalah bagi semua klien, menganggap hasil pekerjaan bimbingan dan konseling harus
segera dilihat, memusatkan usaha bimbingan dan konseling hanya pada penggunaan
instrumentasi bimbingan dan konseling (misalnya tes, inventori,dan alat pengungkap
lainnya), dan bimbingan dan konseling dibatasi pada hanya menangani masalah
masalah yang ringan saja. Kemudian tingkat kesalahpahaman Bimbingan dan konseling
di pondok pesantren pada subjek santri mayoritas berada pada kategori sedang sebesar
40% tinggi 0,74%, dan rendah 0,74%, kemudian tingkat kesalahpahaman bimbingan
dan konseling pada subjek tenaga pendidik mayoritas berada pada kategori sedang,
sebesar 37,77%, sangat tinggi 8,14%, tinggi 3,70, dan rendah 8,88%.
Hilda Khoirunnisa - Personal Name
SKRIPSI BKI 1192
NONE
Text
Indonesia
2025
Serang Banten
xv + 95 hlm.; 18 x 25 cm
LOADING LIST...
LOADING LIST...







