Detail Cantuman Kembali
Analisis Anomali Geomagnetik sebagai Prekursor Gempa Bumi Menggunakan Metode Polarization Ratio Analysis Berbasis Wavelet Transform di Stasiun Geomagnetik Tanjungsari (TJS) Kabupaten Sumedang, Jawa Barat
Kabupaten Sumedang, Jawa Barat berada di zona tektonik aktif yang
dipengaruhi oleh pertemuan Lempeng Indo-Australia dan Eurasia. Interaksi
antara kedua lempeng ini menyebabkan tingginya frekuensi gempa bumi di
wilayah ini dan untuk mengurangi risiko kerugian baik dari segi material
maupun korban jiwa diperlukan mitigasi bencana. Salah satu pendekatan
mitigasi adalah prediksi jangka pendek gempa, di mana parameter fisik seperti
anomali geomagnetik dapat digunakan untuk mendeteksi tanda awal gempa,
yang diperoleh melalui investigasi terhadap perkiraan Ultra Low Frequency
(ULF) terkait gempa bumi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis
keberadaan anomali geomagnetik ULF sebagai prekursor gempa bumi
menggunakan metode Polarization Ratio Analysis (PRA) berbasis Wavelet
Transform (WT). Data yang digunakan berasal dari Stasiun Geomagnetik
Tanjungsari (TJS), Kabupaten Sumedang, Jawa Barat dengan kriteria gempa
M ≥ 5 dan kedalaman 70 km (gempa dangkal) dengan rentang waktu yang
digunakan Januari 2020 hingga Desember 2021, didapatkan 3 kejadian gempa
bumi yang digunakan sebagai studi kasus yaitu gempa bumi 1 pada 10 Maret
2020 (M5.0), gempa bumi 2 pada 25 Oktober 2020 (M5.4), dan gempa bumi
3 pada 27 April 2021 (M5.0). Komponen geomagnetik yang dianalisis adalah
rasio vertikal terhadap horizontal pada dua frekuensi optimal yaitu
0,01 Hz dan 0,02 Hz. Hasil analisis menunjukkan adanya anomali
geomagnetik signifikan yang muncul sebelum gempa terjadi. Anomali
ditandai dengan perubahan energi spectral density yang direpresentasikan
melalui rasio polarisasi yang melampaui ambang batas µ±2σ. Hasil
polarization ratio menunjukkan adanya peningkatan sekitar 14 minggu
sebelum gempa bumi 2 dan signifikan sekitar 4 minggu hingga 2 minggu
sebelum gempa bumi 2. Pada gempa bumi 3 mengalami kenaikan sekitar 14
minggu hingga 4 hari sebelum gempa bumi 3 terjadi. Nilai indeks DST setiap
anomali geomagnetik yang terdeteksi tidak menunjukkan adanya aktivitas
badai geomagnetik global, sehingga hubungan antara anomali geomagnetik
ULF yang terdeteksi dengan gempa bumi yang terjadi di wilayah ini dapat
dipandang sebagai prekursor gempa bumi.
Silva Anjani - Personal Name
SKRIPSI FIS 056
551.22
Text
Indonesia
2025
serang
xvi + 65 hlm.; 18 x 25 cm
LOADING LIST...
LOADING LIST...







