Detail Cantuman Kembali
Asketisme dalam Perspektif Hadis (Studi Hadis Tematik)
Penelitian ini dilatarbelakangi dengan adanya kesenjangan antara ajaran asketisme dalam Islam dengan kenyataan yang ada. Di tengah modernisasi dan globalisasi, nilai-nilai matrealistis seringkali menonjol,membuat gaya hidup sederhana dan spiritual kurang relevan. Pendidikan agama yang terlalu fokus pada teori dan kurangnya panutan juga memperlebar jurang ini, ditambah lagi adanya salah faham yang mengartikan asketisme (zuhud) sebagai penolakan total terhadap dunia. Terdapat dua permasalahan yang penulis kaji: (1) Bagaimana klasifikasi hadis-hadis tentang Asketisme? (2) Bagaimana pemahaman dan konsep Asketisme dalam perspektif hadis Nabi? Sehingga tujuan dari penelitian ini adalah: (1) Untuk mengetahui klasifikasi hadis-hadis tentang Asketisme (2) Untuk mengetahui pemahaman dan konsep Asketisme dalam perspektif hadis Nabi. Metode penelitian yang penulis gunakan untuk menjawab permasalahan tersebut adalah jenis pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan (Library research) untuk mengkaji secara mendalam konsep asketisme dalam hadis. Dengan menganalisis berbagai sumber tertulis, penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran yang komprehensif tentang bagaimana hadis membahas isu tersebut. Penyajian library research menjadi sangat penting digunakan pada penelitian ini karena menyajikan, dan menganalisis secara konseptual yang sistematis tentang berbagai hal yang berkaitan dengan asketisme dalam hadis. Hasil dari penelitian ini, Konsep asketisme (zuhud) dalam Islam memiliki makna yang unik dan seimbang. Islam tidak mendorong bentuk asketisme ekstrem yang menolak semua kenikmatan dunia, tetapi mengajarkan bahwa zuhud merupakan kondisi hati yang tidak bergantung pada dunia, meskipun seseorang memiliki kekayaan atau jabatan. Dalam perspektif hadis Nabi SAW asketisme bukanlah penolakan mutlak terhadap kehidupan duniawi, melainkan bentuk pengendalian diri agar tidak terikat padanya. Asketisme (Zuhud) dalam Islam menjadikan dunia hanya sebagai alat, bukan tujuan akhir. Nabi Muhammad SAW menjalani kehidupan yang sederhana meskipun beliau memiliki akses terhadap harta. Beliau menunjukkan bahwa sikap asketisme bukan berarti meninggalkan pekerjaan atau menolak rezeki, tetapi menjaga hati agar tidak dikuasai oleh keinginan terhadap kenikmatan dunia.
Nadirotul Munawaroh - Personal Name
SKRIPSI IH 158
2x2
Text
Indonesia
2025
serang
xxii + 96 hlm.; 18 x 25 cm
LOADING LIST...
LOADING LIST...







