<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" ID="30991">
<titleInfo>
<title>Interprtasi Simbol dan Makna Budaya Ritual Rias Hewan Kurban di Banten Perspektif Clifford Geertz</title>
</titleInfo>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>BILAL HARDIANSYAH</namePart>
<role><roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm></role>
</name>
<typeOfResource manuscript="yes" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
<genre authority="marcgt">bibliography</genre>
<originInfo>
<place><placeTerm type="text">Serang Banten</placeTerm></place>
<publisher></publisher>
<dateIssued>2025</dateIssued>
<issuance>monographic</issuance>
<edition></edition>
</originInfo>
<language>
<languageTerm type="code">id</languageTerm>
<languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
</language>
<physicalDescription>
<form authority="gmd">Text</form>
<extent>xvi + 129 hlm.; 18 x 25 cm</extent>
</physicalDescription>
<note>Merias hewan kurban merupakan tradisi yang setiap tahun 
dilakukan sebagian masyarakat muslim di Banten. Namun mengalami 
perubahan-perubahan dalam penggunaan simbol alat-alat rias, seperti 
kain putih dapat diganti dengan sajadah, akan tetapi bunga tujuh rupa 
tidak bisa digantikan parfum untuk mendapatkan bau wangi. 
Pemaknaan terhadap budaya merias hewan kurban juga mengalami 
kontroversi. Masyarakat Banten secara umum menganggap berkurban 
sebagai alat kendaraan untuk di akhirat, sementara Nabi Ibrahim 
menyembelih Nabi Ismail bentuk peristiwa kebatinan dalam menguji 
ketakwaan. Penelitian ini untuk mendeskripsikan simbol-simbol dan 
menganalisis pemaknaan budaya merias hewan kurban dengan 
menggunakan pendekatan fenomenologi. Teori yang digunakan untuk 
melihat tradisi ini adalah interpretasi budaya dan agama yang 
dikonsepsikan oleh Clifford Geertz dalam menelaah simbol dan makna.  
Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, 
dokumentasi serta audio dan visual.  Teknis analisis data untuk 
penelitian fenomenologis ini menggunakan model Cresswel. Penelitian 
ini 
menemukan 
dari 
beberapa 
hal, 
pertama: 
simbol-simbol 
yang dipakai oleh masyarakat Banten dalam tradisi rias hewan kurban 
terdiri 
kain 
putih 
atau 
sajadah, 
bedak, 
bunga 
7 jenis, kaca, sisir, dan lipstik. Kedua: pemaknaan terhadap simbol 
dalam tradisi merias hewan kurban terkikis akibat terputusnya 
penjelasan dari tujuan berkurban. Tidak hanya itu, kemudahan 
informasi dari teknologi, membuka wawasan masyarakat lebih modern, 
sehingga tradisi ritual merias hewan kurban mengalami pergeseran dari 
proses kebatinan tauhid Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, menjadi 
peristiwa kepemilikan. Di mana Nabi Ibrahim mengurbankan Nabi 
Ismail murni karena ketakwaan atas perintah Allah. Tapi perspektif 
yang berkembang di masyarakat saat ini, berkurban untuk dirinya 
sendiri karena hewan dianggap sebagai kendaraan di akhirat.</note>
<subject authority=""><topic>Budaya ritual rias hewan kurban</topic></subject>
<classification>301</classification><identifier type="isbn"></identifier><location>
<physicalLocation>UIN SMH Banten Perpustakaan Pusat</physicalLocation>
<shelfLocator>TESIS SII 016</shelfLocator>
<holdingSimple>
<copyInformation>
<numerationAndChronology type="1">TESIS SII 016</numerationAndChronology>
<sublocation>My Library</sublocation>
<shelfLocator>TESIS SII 016</shelfLocator>
</copyInformation>
</holdingSimple>
</location>
<recordInfo>
<recordIdentifier>30991</recordIdentifier>
<recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-09-22 13:51:02</recordCreationDate>
<recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-09-22 13:52:22</recordChangeDate>
<recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo></mods></modsCollection>