<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" ID="30878">
<titleInfo>
<title>Representasi Komunikasi Keluarga Suku Batak Pada Film How to Survive a Marriage (Analisis Semiotika Ferdinand De Saussure).</title>
</titleInfo>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>Ahmad Faisal</namePart>
<role><roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm></role>
</name>
<typeOfResource manuscript="yes" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
<genre authority="marcgt">bibliography</genre>
<originInfo>
<place><placeTerm type="text">serang</placeTerm></place>
<publisher></publisher>
<dateIssued>2025</dateIssued>
<issuance>monographic</issuance>
<edition></edition>
</originInfo>
<language>
<languageTerm type="code">id</languageTerm>
<languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
</language>
<physicalDescription>
<form authority="gmd">Text</form>
<extent>xvi + 55 hlm.: 18 x 25 cm</extent>
</physicalDescription>
<note>Film tidak hanya berfungsi sebagai sumber hiburan bagi masyarakat umum, tetapi juga membawa serta menampilkan problematika sosial yang dihadapi masyarakat. Film menunjukkan realitas budaya dan sosial masyarakat dalam aktivitas sehari-hari dan adakalanya mengkritik masalah sosial hal ini dikarenakan dengan cara yang sangat singkat meningkatkan intresprestasi penikmat pada kejadian yang berjalan di khalayak. Penelitian menganalisis penanda dan petanda komunikasi keluarga suku batak dalam film “How to Survive a Marriage”. Penelitian ini menggunakan analisis semiotik model Ferdinand De Saussure dengan menganalisis melalui dua tahapan penanda dan petandaa. Proses pengumpulan dilakukan dengan cara menonton langsung film tersebut. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa merepresentasikan komunikasi budaya Batak lewat 9 scene yang telah dipilih dan sesuai dengan 9 nilai komunikasi keluarga suku Batak. Adapun bentuk representasi komunikasi budaya Batak ditunjukkan lewat nilai-nilai budaya batak yang ada di dalam film, lewat tindakan figur Sahat, Minar, dan Mamak Mertua, serta figur Mamak Mertua yang tetap berpegang teguh dengan memaksakan kehendaknya agar anak-anaknya patuh terhadap keinginan dirinya serta adat istiadat yang berlaku. Film ini juga bukan hanya sekedar film komedi keluarga biasa, namun di dalamnya terkandung pesan-pesan untuk dapat hidup rukun di dalam keluarga serta tetap melestarikan nilai-nilai budaya Batak.</note>
<classification>302</classification><identifier type="isbn"></identifier><location>
<physicalLocation>UIN SMH Banten Perpustakaan Pusat</physicalLocation>
<shelfLocator>SKRIPSI KPI 1134</shelfLocator>
<holdingSimple>
<copyInformation>
<numerationAndChronology type="1">SKRIPSI KPI 1134</numerationAndChronology>
<sublocation>My Library</sublocation>
<shelfLocator>SKRIPSI KPI 1134</shelfLocator>
</copyInformation>
</holdingSimple>
</location>
<recordInfo>
<recordIdentifier>30878</recordIdentifier>
<recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-08-28 14:28:46</recordCreationDate>
<recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-09-01 15:57:03</recordChangeDate>
<recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo></mods></modsCollection>