Detail Cantuman Kembali

XML

Dinamika Tradisi Sedekah Bumi di Desa Sukadiri Banten di Tengah Tantangan Modernitas


Penelitian ini mengkaji pelaksanaan tradisi sedekah bumi di Desa Sukadiri, Banten, khususnya dalam konteks keberlanjutan dan perubahan sosial-budaya yang terjadi di tengah tantangan modernitas. Tradisi ini telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen, sarana mempererat tali silaturahmi, serta media penguatan spiritualitas dan kebersamaan. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, tradisi ini mengalami tekanan yang signifikan akibat gelombang modernitas, perubahan gaya hidup masyarakat, serta berkembangnya pemahaman keagamaan yang lebih tekstual. Tantangan modernitas ini memunculkan dilema antara mempertahankan warisan leluhur atau menyesuaikan tradisi dengan realitas zaman. Penelitian ini mengkaji dua aspek utama: (1) Bagaimana pemaknaan tradisi sedekah bumi di Desa Sukadiri Banten saat ini (2) Bagaimana dinamika tradisi sedekah bumi di Desa Sukadiri di tengah tantangan modernitas dalam konteks teori continuity and Change John Obert Voll. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Untuk menganalisis dinamika yang terjadi, peneliti menggunakan teori Continuity and Change dari John Obert Voll. Hasil penelitian adalah: a. Bahwa tradisi Sedekah Bumi masih dimaknai sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen, sarana mempererat solidaritas sosial, serta upaya menjaga hubungan spiritual dengan alam dan leluhur. Tradisi ini berfungsi sebagai penyeimbang kehidupan sosial dan spiritual masyarakat agraris. b. Tradisi Sedekah Bumi di Desa Sukadiri masih dilaksanakan secara rutin setiap tahun setelah musim panen dan akan turun kesawah sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan atas rezeki hasil bumi. Masyarakat percaya bahwa pelaksanaan tradisi ini merupakan bentuk penghormatan terhadap alam, leluhur, dan sebagai sarana menolak bala. c. Salah satu tantangan utama yang ditemukan adalah semakin berkurangnya partisipasi generasi muda dalam pelaksanaan tradisi ini. Hal ini disebabkan oleh gaya hidup modern, kurangnya pemahaman terhadap makna tradisi, serta minimnya edukasi budaya sejak dini. Generasi muda lebih tertarik pada aktivitas digital dan modern yang cenderung individualistik dibanding kegiatan komunal. Temuan menunjukkan bahwa terjadi perubahan struktural, normatif, dan adaptif dalam pelaksanaan tradisi, seperti penggantian tumpeng dengan makanan sederhana dan alat arit digantikan dengan mesin pemotong rumput. Perubahan tersebut bukan sekadar pergeseran teknis, tetapi mencerminkan penyesuaian nilai dan makna dalam kerangka cultural resilience. Masyarakat tidak sepenuhnya meninggalkan tradisi, namun melakukan modifikasi agar tradisi tetap relevan dan diterima oleh generasi muda. Dengan demikian, tradisi Sedekah Bumi di Sukadiri menunjukkan bahwa warisan budaya bukan entitas yang beku, melainkan terus mengalami pembaruan untuk bertahan di tengah arus modernitas yang semakin kuat.
Lutfiyah Aspita Septiani - Personal Name
TESIS SII 011
2x4.251
Text
Indonesia
2025
serang
xiv + 141 hlm.; 18 x 25 cm
LOADING LIST...
LOADING LIST...