<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" ID="30358">
<titleInfo>
<title>Relevansi Konsep Imamah dan Sistem Kepemimpinan dalam Konteks Masa Kini (Studi Komparatif Tafsir Al-A'qam dan Tafsir Al-Mizan)</title>
</titleInfo>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>Muhamad Sofian</namePart>
<role><roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm></role>
</name>
<typeOfResource manuscript="yes" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
<genre authority="marcgt">bibliography</genre>
<originInfo>
<place><placeTerm type="text">serang</placeTerm></place>
<publisher></publisher>
<dateIssued>2024</dateIssued>
<issuance>monographic</issuance>
<edition></edition>
</originInfo>
<language>
<languageTerm type="code">id</languageTerm>
<languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
</language>
<physicalDescription>
<form authority="gmd">Text</form>
<extent>xxi + 109 hlm.; 18 x 25 cm</extent>
</physicalDescription>
<note>Penelitian ini berfokus pada konsep kepemimpinan dalam Al Qur'an melalui pendekatan perbandingan dua tafsir dari tokoh Syiah yang berpengaruh, yaitu Tafsir Al-Mizan oleh Thabāthabā'ī dan Tafsir Al-A'qam. Rumusan masalah utama dalam penelitian ini meliputi metode dan corak penafsiran yang digunakan kedua tokoh ini dalam menginterpretasikan konsep imamah serta relevansi konsep tersebut dalam sistem kepemimpinan masa kini. Ayat-ayat kunci dalam Al-Qur'an, seperti QS Al-Baqarah 30 dan 247, QS An-Nisa 59, serta QS Al-Maidah 8, membahas dasar-dasar kepemimpinan, termasuk penunjukan khalifah dan kriteria pemimpin yang adil. Dalam Tafsir Al-Mizan, Thabāthabā'ī menekankan pendekatan filosofis yang menganggap imamah sebagai posisi suci yang ditentukan oleh Allah, di mana pemimpin bertanggung jawab untuk menegakkan keadilan dan moralitas. Sementara itu, Al-A'qam, dengan pengaruh pemikiran Sunni, menggambarkan khalifah sebagai pengganti yang dipilih untuk memimpin umat secara terus-menerus, menekankan pentingnya ketaatan kepada pemimpin yang berilmu dan adil demi menjaga stabilitas masyarakat. Studi ini menunjukkan perbedaan metodologis dalam tafsir kedua tokoh tersebut, yang mana pendekatan Thabāthabā'ī lebih filosofis, sedangkan Al-A'qam lebih pragmatis dan tradisional.</note>
<classification>2x1.3</classification><identifier type="isbn"></identifier><location>
<physicalLocation>UIN SMH Banten Perpustakaan Pusat</physicalLocation>
<shelfLocator>SKRIPSI IAT 655</shelfLocator>
<holdingSimple>
<copyInformation>
<numerationAndChronology type="1">SKRIPSI IAT 655</numerationAndChronology>
<sublocation>My Library</sublocation>
<shelfLocator>SKRIPSI IAT 655</shelfLocator>
</copyInformation>
</holdingSimple>
</location>
<recordInfo>
<recordIdentifier>30358</recordIdentifier>
<recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-05-26 09:54:24</recordCreationDate>
<recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-05-26 09:54:38</recordChangeDate>
<recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo></mods></modsCollection>