Detail Cantuman Kembali

XML

Bahasa Bebasan Banten dalam Budaya Komunikasi Santri (Studi di Pesantren Al-Fathaniyah Kota Serang)


Bebasan Banten pada praktiknya banyak dipakai di kalangan santri dalam berkomunikasi dengan pengasuh, kyai , Ustadz dan orang yang dianggap lebih tua sebagai bentuk komunikasi yang halus dan sopan. Namun, seiring perkembangan zaman yang semakin pesat pengunaan Bahasa Bebasan Banten sudah mengalami kepunahan terutama pada santri generasi milenial saat ini yang fasih berbahasa asing atau bahasa luar negeri tetapi gagap terhadap bahasa daerahnya sendiri yaitu Bahasa Bebasan Banten. Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : 1) Bagaimana Bahasa Bebasan Banten dalam budaya komunikasi santri? 2) Bagaimana kendala Bahasa Bebasan Banten dalam budaya komunikasi santri? Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif yang berfokus pada fenomena atau peristiwa yang terjadi. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu: observasi, wawancara, dokumentasi, dan analisis data. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan: 1) Pembentukan budaya komunikasi santri di pondok pesantren Al-Fathaniyah Tengkele Kota Serang, pengasuh menerapkan Bahasa Bebasan Banten sebagai sarana dalam menanamkan nilai-nilai budaya dan moral terhadap santri, karena di dalam Bahasa Bebasan Banten memiliki nilai budaya atau tingkatan Bahasa kepada orang tua, teman sebaya serta yang lebih muda. Penerapan pembiasaan Bahasa Bebasan Banten dalam budaya komunikasi santri di pondok pesantren Al-Fathaniyah memiliki beberapa metode, yaitu dengan menggunakan metode pembiasaan santri untuk berbahasa Bebasan Banten dalam berkomunikasi, metode keteladanan dari pengasuh serta keluarga besar, dan metode nasihat. 2) Kendala atau hambatan penerapan Bahasa Bebasan Banten dalam budaya komunikasi santri yaitu : a) Faktor kedwibahasaan. Faktor kedwibahasaan adalah dimana dalam suatu masyarakat menggunakan lebih dari satu Bahasa. b) Faktor media dan tekhnologi Penggunaan Bahasa Indonesia yang digunakan dalam media sosial membuat bahasa daerah menurun. c) Pembelajaran Bahasa Bebasan di sekolah kurang maksimal tujuan diajarkanya Bahasa Bebasan di sekolah adalah untuk mengajarkan dan mengenalkan Bahasa Bebasan terhadap anak, tetapi tidak mengajarkan bagaimana berkomunikasi dengan Bahasa yang halus seperti Bebasan.
Jafar Shodiq - Personal Name
SKRIPSI KPI 1081
418
Text
Indonesia
2024
serang
xii + 72 hlm.; 18 x 25 cm
LOADING LIST...
LOADING LIST...