Detail Cantuman Kembali

XML

Penafsiran Ayat-Ayat Tentang Dzikir Fida’ (‘Ataqah Sebagai Penebus Jiwa (Studi Kasus Di Kelurahan Cigadung, Karangtanjung, Pandeglang Banten)


Dzikir fida’ adalah tebusan atau dengan isitilah lain yakni “‘Ataqah” yang artinya kemerdekaan, dengan maksud lain sebagai ungkapan umum untuk suatu dzikir yang khusus membaca surat Al-Ikhlas yang diringi dengan kalimat thayyibah seperti tasbih dan tahlil dengan jumlah bilangan tertentu dengan harapan agar orang yang membaca dan orang yang telah meninggal dunia diberi ampunan oleh Allah SWT serta dibebaskan dari api neraka. Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: 1) Bagaimana praktik ‘Ataqah baik ‘Ataqah kubra atau ‘Ataqah sughra dalam tahlil ? 2) Bagaimana makna pembacaan ‘Ataqah dalam tahlil di Kelurahan Cigadung, KarangTanjung, Pandeglang Banten ? 3) Bagaiamana resepsi masyarakat di Kelurahan Cigadung, KarangTanjung, Pandeglang Banten terhadap tradisi ‘Ataqah ? Penelitian ini termasuk dalam kategori penelitian lapangan (field research), dan metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan etnografi. Dalam proses pengumpulan data peneliti menggunakan tida metode, yaitu melalui obeservasi, wawancara, dan dokumentasi. Yang dimana dalam skripsi ini menggunakan analisis deskriptif analitif dan pola pikir induktif. Hasil penelitian dalam tulisan ini menunjukkan bahwa pertama, praktik ‘Ataqah kubra atau ‘Ataqah sughra dalam tahlil bisa dilaksanakan dengan berjamaah yang biasa dilakukan setelah warga di Kelurahan Cigadung meninggal dunia selama tujuh hari. Kedua makna pembacaan ‘Ataqah dalam tahlil ini adalah dalam rangka mengingat, memuji, dan berdzikir kepada Allah SWT yang intinya adalah untuk mendoakan melalui dzikir dengan kalimat “Allahumma Aushil” bahwa doa dengan bacaan dzikir lalu sampaikan kepada orang yang telah meinggal dunia sebagai tebusan, sebagai penghalang atau meringankan dosa-dosa kepada ahli-ahli yang telah meniggal dunia. Dan ketiga resepsi masyarakat Kelurahan Cigadung terhadap tradisi ‘Ataqah ini dilaksanakan secara berjamaah dan itu sudah menjadi adat kebiasan yang dilakukan oleh setiap warga ketika ada yang meninggal dunia maka selama ‘Ataqah masih berjalan dan dilaksanakan dari hari pertama sampai hari ketujuh.
SKRIPSI IAT 624
2x1.4
Text
Indonesia
2024
serang
xxiii + 93 hlm.; 18 x 25 cm
LOADING LIST...
LOADING LIST...