<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" ID="29298">
<titleInfo>
<title>Pembangkitan Cahaya Nonklasik dalam Model Jaynes-Cummings dengan Ukuran Nonklasikalitas Tertentu</title>
</titleInfo>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>Siti Sutihah</namePart>
<role><roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm></role>
</name>
<typeOfResource manuscript="yes" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
<genre authority="marcgt">bibliography</genre>
<originInfo>
<place><placeTerm type="text">serang</placeTerm></place>
<publisher></publisher>
<dateIssued>2024</dateIssued>
<issuance>monographic</issuance>
<edition></edition>
</originInfo>
<language>
<languageTerm type="code">id</languageTerm>
<languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
</language>
<physicalDescription>
<form authority="gmd">Text</form>
<extent>xv + 60 hlm.; 18 x 25 cm</extent>
</physicalDescription>
<note>Penelitian ini membahas mengenai pembangkitan cahaya nonklasik dalam model Jaynes-Cummings dengan ukuran nonklasikalitas tertentu. Pada konteks ini, peneliti mengkaji bagaimana variasi parameter sistem, seperti kekuatan kopling (g), detuning (∆) dan frekuensi penggerak (Ω), dapat digunakan untuk mengendalikan dan menghasilkan keadaan cahaya nonklasik, diantaranya fungsi korelasi orde kedua dan fungsi Wigner. Penyesuaian parameter dalam model Jaynes-Cummings memungkinkan kontrol presisi atas sifat statistika kuantum dari medan elektromagnetik dapat ditunjukkan dengan menggunakan teknik simulasi numerik dan analisis teoretis. Variasi g dengan menetapkan nilai konstan Ω sebesar 0.3 dan ∆ sebesar 0.4 menghasilkan perubahan yang lebih signifikan pada keadaan kuantum sistem, sehingga lebih efektif dalam mengarahkan sistem menuju keadaan nonklasik. Sebaliknya, variasi ∆ dengan menetapkan nilai konstan Ω sebesar 0.5 dan g sebesar 0.6 dan juga pada variasi Ω dengan menetapkan nilai konstan ∆ sebesar 0.04 dan g sebesar 0.06 hasilnya cenderung memiliki pengaruh yang lebih lemah atau kurang langsung dalam mengubah karakteristik kuantum sistem, terutama dalam konteks emisi cahaya, sehingga dengan demikian, fokus pada pengaturan g menjadi prioritas utama dalam penelitian terkait keadaan nonklasik.</note>
<classification>535.2</classification><identifier type="isbn"></identifier><location>
<physicalLocation>UIN SMH Banten Perpustakaan Pusat</physicalLocation>
<shelfLocator>SKRIPSI FIS 033</shelfLocator>
<holdingSimple>
<copyInformation>
<numerationAndChronology type="1">SKRIPSI FIS 033</numerationAndChronology>
<sublocation>My Library</sublocation>
<shelfLocator>SKRIPSI FIS 033</shelfLocator>
</copyInformation>
</holdingSimple>
</location>
<recordInfo>
<recordIdentifier>29298</recordIdentifier>
<recordCreationDate encoding="w3cdtf">2024-11-07 09:27:38</recordCreationDate>
<recordChangeDate encoding="w3cdtf">2024-11-07 09:27:54</recordChangeDate>
<recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo></mods></modsCollection>