Detail Cantuman Kembali

XML

Istidrāj dalam Tafsir Laṭhāif Al-Isyārāt Karya Imām Al-Qusyairī


Dalam kehidupan yang semakin berkembang banyak orang yang
berlomba-lomba dalam mengejar urusan dunia. Diantaranya ukuran
kesuksesan dan kebahagian yang diterapkan manusia sekarang, dijadikan
sebagai tolak ukur. Tak terkecuali dalam menilai suatu perkara sebagai nikmat
yang baik atau nikmat istidrāj, karena tidak semua kekayaan atau kebahagiaan
materi merupakan nikmat yang berkah dimata Allah. Karena diantara nikmat
dan adzab yang nampak oleh mata terdapat istidrāj.
Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah dalam
skripsi ini adalah: 1). Bagaimana makna istidrāj menurut para ulama tafsir?
2). Bagaimana penafsiran Imām Al-Qusyairī tentang ayat-ayat istidrāj dalam
kitab Tafsir Laṭhāif Al-Isyārāt?. Adapun tujuan dalam skripsi ini adalah: 1).
Untuk mengetahui makna istidrāj menurut para ulama tafsir. 2). Untuk
mengetahui penafsiran ayat-ayat istidrāj dalam kitab Tafsir Laṭhāif Al-Isyārāt
karya Imām Al-Qusyairī.
Adapun metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode
kualitatif (library research) datanya bersumber dari literatur-literatur tertulis
yang berhubungan langsung dengan materi yang dikaji, baik berupa buku,
ensiklopedia, kamus, jurnal, dokumen, majalah dan lain semisalnya. Adapun
sumber data, ada data primer dan data sekunder. Data primer pada penelitian
ini ialah kitab suci Al-Qur‘an dan tafsirnya yang dikhususkan kepada kitab
tafsir Laṭhāif Al-Isyārāt karya Imām Al-Qusyairī . Untuk data sekunder yang
digunakan peneliti ialah buku, kitab tafsir dan literatur-literatur yang
berhubungan dengan judul yang diajukan peneliti.
Adapun kesimpulan yang penulis peroleh dari penelitian ini, dalam
Al-Qur‘an kata istidrāj disebutkan sebanyak dua kali, dalam surat Al-A‘raf
ayat 182-183 dan surat Al-Qalam ayat 44-45. Sedangkan secara tersirat
terdapat ayat-ayat lain yang juga menyebutkan istidrāj secara maknawi tedapat
dalam surat Al-An‗ām [6]:44, Āli ‗Imrān [3]:178, Az-Zumar [39]:49 dan Al-Mu'minūn [23]: 55-56. Imām Al-Qusyairī memberikan penafsiran yang
mendalam tentang istidrāj dalam kitabnya. Istidrāj menghantarkan pada
kebinasaan: Imām Al-Qusyairī menjelaskan bahwa istidrāj adalah cara Allah
untuk menghancurkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat-Nya. Istidrāj
terjadi ketika seseorang merasa aman dan terlindungi dalam kesenangan
dunia, namun sebenarnya mereka sedang menuju kebinasaan tanpa mereka
sadari. Siksaan setelah Kesenangan: Imām Al-Qusyairī juga menyoroti bahwa
istidrāj dapat berarti bahwa setelah seseorang merasakan kesenangan dan
kenikmatan dalam hidupnya, Allah dapat memberikan siksaan yang tiba-tiba
dan tak terduga sebagai hukuman atas kesombongan dan keingkaran mereka.
Siti Nurul Ajizah - Personal Name
SKRIPSI IAT 570
2x1.3
Text
Indonesia
2023
serang
xxv + 78 hlm.; 18 x 25 cm
LOADING LIST...
LOADING LIST...