Detail Cantuman Kembali
Penggunaan Istifhām dalam Penafsiran Al-Qur'an (Studi Analisis Q.S. Al-Mulk berdasarkan Tafsir Mafātih Al-Ghaib karya Fakhr al-Dīn Al-Rāzi)
Al-Qur'an memiliki banyak Kemukjizatan secara bahasa, salah satunya
kalimat istifhām (pertanyaan). Makna istifhām sendiri memiliki arti
pertanyaan atau dengan kata lain istifhām merupakan kalimat untuk meminta
sebuah jawaban dari apa yang dipertanyakan. Namun, terkadang kalimat
istifhām dalam Al-Qur'an tidak selalu membutuhkan jawaban. Banyak sekali
ayat atau lafazh yang menggunakan kalimat istifhām. Dalam skripsi ini akan
menganalisis penggunaan ayat istifhām dalam surat Al-Mulk yang terdapat
pada 16 ayat dengan jumlah 18 istifhām dari enam jenis adawat istifhām yang
dipakai. Dengan redaksi dan makna istifhām yang berbeda-beda.
Dalam tersusunnya karya ilmiah ini penulis menggunakan jenis
pendekatan Tahlili (analisis), serta menggunakan metode penelitian
kepustakaan (Library Research) seperti penelaahan terhadap beberapa buku,
dokumen, artikel, jurnal dan karya ilmiah lainnya. Adapun rumusan masalah
dalam penelitian ini yaitu: 1) Bagaimana pemaknaan istifhām dalam ulumul
qur‟an, 2) Bagaimana analisis penggunaan istifhām dalam Q.S. Al-Mulk
menurut tafsir Mafātih al-Ghaib karya Fakhr al-Dīn Al-Rāzi. Maka tujuan
penelitian ini yaitu: 1) Untuk mengetahui makna istifhām dalam ulumul
qur‟an, 2) Untuk menganalisis penggunaan istifhām dalam Q.S. Al-Mulk
menurut tafsir Mafātih al-Ghaib karya Fakhr al-Dīn Al-Rāzi.
Dapat disimpulkan bahwa skripsi ini menjelaskan bahwa dalam
Al-Qur'an khususnya surat Al-Mulk terdapat ayat yang menggunakan
istifhām, seperti pada ayat ke 2, ayat ke 3, ayat ke 8, ayat ke 14, ayat ke 16,
ayat ke 17, ayat ke 18, ayat ke 19, ayat ke 20, ayat ke 21, ayat ke 22, ayat ke
25, ayat ke 28 dan ayat 30 yang terdapat dua adawat istifhām. Dalam surat
tersebut memiliki hikmah bahwa Allah lah pemegang kerajaan, Dia yang
menciptakan langit-langit begitu sempurna sehingga semuanya seimbang
tanpa cacat, Dia menciptakan bintang-bintang untuk menghiasi angkasa
raya. Surat ini dijadikan sebagai bahan renungan, mereka juga tidak mau
belajar dari pengalaman orang-orang sebelum mereka yang bernasib buruk
karena menentang peringatan Tuhan yang disampaikan para nabi-Nya.
Menurut penafsiran Fakhr al-Dīn Al-Rāzi penggunaan istifhām memiliki
perbedaan makna, seperti pertanyaan yang berbentuk ancaman, teguran,
keheranan, pengikraran, dan sebagainya.
Iis Islamiyah - Personal Name
SKRIPSI IAT 533
2x1.3
Text
Indonesia
2022
serang
xxiii + 77 hlm.; 18 x 25 cm
LOADING LIST...
LOADING LIST...







