<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" ID="25442">
<titleInfo>
<title>Konseling Realitas untuk Menumbuhkan Sikap Penerimaan Diri 
Sebagai Orang Tua yang Memiliki Anak Tunagrahita (Studi Kasus di 
Komplek Banjar Agung Indah Kota Serang)</title>
</titleInfo>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>Dimas Kevin Saputra</namePart>
<role><roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm></role>
</name>
<typeOfResource manuscript="yes" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
<genre authority="marcgt">bibliography</genre>
<originInfo>
<place><placeTerm type="text">Serang Banten</placeTerm></place>
<publisher>UIN SMH  BANTEN</publisher>
<dateIssued>2022</dateIssued>
<issuance>monographic</issuance>
<edition></edition>
</originInfo>
<language>
<languageTerm type="code">id</languageTerm>
<languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
</language>
<physicalDescription>
<form authority="gmd">Text</form>
<extent>xvii + 92 hlm.; 18 x 25 cm</extent>
</physicalDescription>
<note>Manusia diciptakan oleh Allah SWT dengan keadaan sempurna, 
seperti yang telah disampaikan dalam surat QS. At-Tin ayat 4 yang 
Artinya: &#34;Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk 
yang sebaik-baiknya&#34;, semua akan terlihat sempurna bagaimana sudut 
pandang dan cara penerimaan seseorang terhadap hal tersebut. Banyak dari 
orangtua yang memiliki anak tunagrahita belum bisa menerima posisi 
dirinya sebagai orangtua yang memiliki anak tunagrahita . Adapun 
rumusan masalah sebagai berikut 1). Bagaimana penerimaan diri
orangtua yang memilik anak tunagrahita? 2). Bagaimana penerapan teknik 
konseling realitas dalam menumbuhkan sikap penerimaan diri orangtua 
yang memiliki anak tunagrahita? 3). Bagaimana hasil penerapan konseling 
realitas dalam menumbuhkan sikap penerimaan diri orangtua yang 
memiliki anak tunagrahita?Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : 1). 
Untuk mengetahui penerimaan diri orangtua yang memilik anak 
tunagrahita. 2). Untuk mengetahui langkah-langkah penerapan teknik 
konseling realitas dalam menumbuhkan sikap penerimaan diri orangtua 
yang memiliki anak tunagrahita 3).Untuk mengetahui apa saja hambatan
dan pendukung pada penerapan konseling realitas dalam menumbuhkan 
sikap penerimaan diri orangtua yang memiliki anak tunagrahita. Penelitian 
dilaksanakan di Komplek Banjar Agung Indah , jumlah 3 Pasang orangtua, 
jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan mengumpulkan data 
dengan observasi, wawancara dan dokumentasi. Konseling realitas ini 
dibagi menjadi 8 tahapan berdasarkan konsep WEDP. Adapun hasil 
penelitian sebagai berikut: 1). . Penerimaan diri sebagai orangtua yang 
memiliki anak tunagrahita rata-rata dari mereka banyak yang belum bisa 
menerima keadaan tersebut, terkadang klien masih menerima diri menjadi 
orangtua tunagrahita namun masih setengah hati. Hal ini terkadang 
membuat sikap dan perilakunya berpengaruh kepada anaknya. Bahkan ada 
iii
orangtua yang memang benar-benar tidak ingin adanya kehadiran anaknya 
didunia ini ia lebih memilih acuh dan membiarkan anaknya begitu saja. 2). 
Penerapan konseling ini dilakukan 3 tahapan dipertemuan pertama peneliti 
mencoba membangun kedekatan emosional dan mencoba menggalih data 
yang peneliti butuhkan, tahapan kedua peneliti melakuakan proses 
konselingnya dan terakhir peneliti melakukan evaluasi konseling. Yang 
dilakukan peneliti terhadap klien SU,SI,MA,IS,R,F sama menggunakan 
tiga tahapan tersebut. 3). Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, 
peneliti dapat menyimpulkan bahwa konseling realitas ini cocok untuk 
menumbuhkan rasa peneriamaan diri menjadi orang tua dari anak 
tunagrahita, hal ini dibuktikan 2 pasang suami istri yang merupakan 
orangtua anak tunagrahita dari 3 pasang suami istri yang merupakan 
orangtua dari anak tunagrahita, berhasil menumbuhkan rasa penerimaan 
diri sebagai orangtua dari anak tunagrahita, klien sadar dan paham tentang 
kewajiban orangtua kepada anaknya bagaimanapun keadaan anaknya.
Adapun hambatan nya adalah waktu yang terbatas seperti proses konseling 
terhadap klien R dan F hal ini membuat proses konseling menjadi kurang 
efektif karena efesiensi waktu yang di dapatkan penulis menjadi kurang 
efektif untuk melakukan konseling. Selain waktu terkadang ada juga 
pertanyaan yang kurang dipahami sehingga membuat penulis menggulang 
kembalu pertanyaan tersebut dan juga menjelaskan maksud pertanyaan 
tersebut. Sedangkan faktor pendukung dalam penelitian ini semua orangtua 
tersebut menerima kehadiran penulis untuk menjelaskan dan memberi 
solusi cara peneriamaan diri menjadi orangtua yang memiliki anak 
tunagrahita dan juga ada beberapa klien yang sangat senang mendapatkan 
penjelasan dari penulis cara mengahdapi anak tunagrahita, penulis juga di 
ijinkan untuk melihat berkas-berkas catatan perkembangan anak 
tunagrahita dari hasil tesnya, penulis juga di ijinkan bertemu dengan anak
tunagrahita tersebut untuk bermain dan mengajarkan home work kepada 
mereka</note>
<classification>150</classification><identifier type="isbn"></identifier><location>
<physicalLocation>UIN SMH Banten Perpustakaan Pusat</physicalLocation>
<shelfLocator>SKRIPSI BKI 771</shelfLocator>
<holdingSimple>
<copyInformation>
<numerationAndChronology type="1">SKRIPSI BKI 771</numerationAndChronology>
<sublocation>My Library</sublocation>
<shelfLocator>SKRIPSI BKI 771</shelfLocator>
</copyInformation>
</holdingSimple>
</location>
<recordInfo>
<recordIdentifier>25442</recordIdentifier>
<recordCreationDate encoding="w3cdtf">2022-12-29 15:25:53</recordCreationDate>
<recordChangeDate encoding="w3cdtf">2024-02-16 13:56:40</recordChangeDate>
<recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo></mods></modsCollection>