Detail Cantuman Kembali

XML

Penerapan Konseling Realitas dalam Mengatasi Kepercayaan Diri pada Anak Berkebutuhan Khusus di SKh Negeri 01 Pembina Pandeglang (Kecamatan Majasari, Kabupaten Pandeglang)


Anak berkebutuhan khusus adalah anak yang memiliki kebutuhan berbeda dengan
manusia pada umumnya, salah satu anak berkebutuhan khusus adalah tunanetra. Di
Indonesia terdapat banyak anak-anak penyandang tunanetra yang perlu diperhatikan oleh
unsur pemerintah dan masyarakat sekitar. Namun pada kenyataannya anak berkebutuhan
khusus cenderung lebih dikucilkan, dihina, dianggap sebelah mata dan diejek secara
terang-terangan. Hal-hal tersebut dapat merampas rasa percaya diri pada anak
berkebutuhan khusus dan dapat menimbulkan perasaan tidak berharga karena kondisi fisik
mereka yang berbeda dengan orang lain yang menimbulkan perasaan tidak aman dan tidak
percaya diri.
Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini
adalah: 1) Bagaimana kepercayaan diri anak berkebutuhan khusus di SKh Negeri 01
Pembina Pandeglang? 2) Bagaimana penerapan konseling realitas dalam mengatasi
kepercayaan diri pada anak berkebutuhan khusus di SKh Negeri 01 Pembina Pandeglang?
3) Bagaimana kepercayaan diri setelah melaksanakan konseling realita?
Penelitian ini bertujuan: 1) Untuk mengetahui kepercayaan diri terhadap anak
berkebutuhan khusus di SKh Negeri 01 Pembina Pandeglang. 2) Untuk mengetahui
penerapan konseling realitas dalam mengatasi kepercayaan diri terhadap anak
berkebutuhan khusus di SKh Negeri 01 Pembina Pandeglang. 3) Untuk mengetahui
kepercayaan diri setelah melaksanakan konseling realita.
Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan menggunakan tindakan
konseling individu dengan pendekatan Konseling Realitas dengan teknik WDEP,
sedangkan teknik pengumpulan datanya dengan menggunakan metode observasi,
wawancara, dan dokumentasi. Jumlah partisipan tiga orang klien yang terindikasi.
Dalam proses penerapannya, peneliti melakukan konseling individual, penerapan
konseling realitas dengan menggunakan tahapan WDEP, yaitu tahap want, doing,
evaluation, planning.
Dalam penelitian ini, penulis menemukan beberapa macam kondisi psikologis.
Pertama, rendahnya kepercayaan diri yang timbul pada tiga klien seperti malu bertanya,
tidak menerima dirinya, tidak bisa hidup mandiri, tidak berani tampil didepan umum.
Kedua, penerapan konseling realitas menggunakan teknik WDEP kepada ketiga klien UN,
AU, dan AD. Tahap pertama adalah membina hubungan baik dengan klien, tahap kedua
mengeksplorasi kebutuhan dan keinginan klien. Tahap ketiga mengeksplorasi arah dan
tindakan. Tahap keempat adalah evaluasi. Pertemuan setiap kliennya berbeda-beda, klien
UN ada empat kali pertemuan, klien AU dan AD ada tiga kali pertemuan. Ketiga, hasil
dari penerapan setelah konseling ini yaitu terlihat dan terbukti bahwa klien sudah tidak
malu untuk bertanya, tidak bergantung pada orang lain, berani tampil didepan umum, dan
menerima dirinya sendiri.

Indria Shuffah - Personal Name
SKRIPSI BKI 666
155
Text
Indonesia
2022
Serang Banten
xvi + 114 hlm.; 18 x 25 cm
LOADING LIST...
LOADING LIST...