<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" ID="21951">
<titleInfo>
<title>Penerapan Cognitive Behavior Therapy dalam mengatasi Glossophobia pada remaja (Studi di Pondok Pesantren Modern Daar El-Khairat Cikande, Serang, Banten)</title>
</titleInfo>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>Urfiyah</namePart>
<role><roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm></role>
</name>
<typeOfResource manuscript="yes" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
<genre authority="marcgt">bibliography</genre>
<originInfo>
<place><placeTerm type="text">Serang Banten</placeTerm></place>
<publisher>Fakultas Dakwah Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten</publisher>
<dateIssued>2021</dateIssued>
<issuance>monographic</issuance>
<edition></edition>
</originInfo>
<language>
<languageTerm type="code">id</languageTerm>
<languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
</language>
<physicalDescription>
<form authority="gmd">Text</form>
<extent>21,5cm, 28cm, 132 hlm</extent>
</physicalDescription>
<note>Kemampuan berkomunikasi yang baik tentu dapat menunjang karir hidup seseorang. Namun, tidak semua orang di dunia ini memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik terutama untuk dapat tampil berbicara di depan umum. Bahkan dari sekian banyak populasi manusia, hanya segelintir orang saja yang dapat menguasai keterampilan berkomunikasi ini. Selebihnya, 75% populasi global mengalami glossophobia atau kecemasan berbicara di depan umum dengan tingkat ketakutan yang berbeda-beda. Hal itu pula yang terjadi pada kelima remaja di Pondok Pesantren Modern Daar El-Khairat Cikande, Serang, Banten yang juga mengalami kecemasan berbicara di depan umum. Layanan konseling dengan penerapan cognitive behavior therapy dalam hal ini diperlukan dalam mengatasi glossophobia pada remaja. Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, perumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1). Bagaimana kondisi remaja yang mengalami glossophobia di Pondok Pesantren Modern Daar El-Khairat Cikande, Serang, Banten? 2). Bagaimana penerapan cognitive behavior therapy dalam mengatasi glossophobia pada remaja di Pondok Pesantren Modern Daar El-Khairat Cikande, Serang, Banten? 3). Bagaimana hasil dari teknik cognitive behavior therapy yang diterapkan untuk mengatasi glossophobia pada remaja di Pondok Pesantren Modern Daar El-Khairat Cikande, Serang, Banten? Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah: 1). Untuk mengetahui bagaimana kondisi remaja yang mengalami glossophobia di Pondok Pesantren Modern Daar El-Khairat Cikande, Serang, Banten. 2). Untuk mengetahui bagaimana penerapan cognitive behavior therapy dalam mengatasi glossophobia pada remaja di Pondok Pesantren Modern Daar El-Khairat Cikande, Serang, Banten. 3). Untuk mengetahui hasil yang didapatkan dari penerapan cognitive behavior therapy dalam mengatasi glossophobia pada remaja di Pondok Pesantren Modern Daar El-Khairat Cikande, Serang, Banten. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif yang menghasilkan data kualitatif deskriptif, berupa kata-kata tertulis atau lisan dari objek penelitian yang diamati dengan teknik wawancara, observasi, dokumentasi dan juga kuesioner. Penelitian ini dilakukan di Pondok Pesantren Modern Daar El-Khairat Cikande, Serang, Banten. Sedangkan untuk penanganan masalah ini yaitu dengan menggunakan teknik restrukturisasi kognitif dan juga teknik relaksasi. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa kondisi psikologis klien EH, IS, N, M dan UM yang mengidap glossophobia di antaranya yaitu: merasa cemas berlebihan, badan yang keringat dingin, detak jantung yang tidak beraturan, dll. Sedangkan tahap penerapan layanan konseling dengan penerapan cognitive behavior therapy dilakukan dengan beberapa tahap meliputi: Tahap sebelum konseling yang terdiri dari perencanaan dan asesmen. Selanjutnya konseling pertemuan tahap pertama, konseling pertemuan kedua, konseling pertemuan ketiga dan yang terakhir konseling pertemuan keempat dengan evaluasi. Penerapan cognitive behavior therapy dalam mengatasi glossophobia pada remaja berdampak positif dalam menurunkan tingkat fobia kelima remaja. Klien mulai memiliki keberanian untuk tampil berbicara di depan umum, dapat berpikir lebih positif juga dapat mengendalikan perilaku mereka ke arah yang lebih baik.</note>
<subject authority=""><topic>Cognitive Behavior Therapy</topic></subject>
<classification>SKRIPSI BKI 514</classification><identifier type="isbn"></identifier><location>
<physicalLocation>UIN SMH Banten Perpustakaan Pusat</physicalLocation>
<shelfLocator>SKRIPSI BKI 514</shelfLocator>
<holdingSimple>
<copyInformation>
<numerationAndChronology type="1">SKRIPSI BKI 514</numerationAndChronology>
<sublocation>My Library</sublocation>
<shelfLocator>SKRIPSI BKI 514</shelfLocator>
</copyInformation>
</holdingSimple>
</location>
<recordInfo>
<recordIdentifier>21951</recordIdentifier>
<recordCreationDate encoding="w3cdtf">2021-08-25 08:52:12</recordCreationDate>
<recordChangeDate encoding="w3cdtf">2021-08-25 08:52:31</recordChangeDate>
<recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo></mods></modsCollection>