<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" ID="11579">
<titleInfo>
<title>PENAFSIRAN HAFALAN THAYYIBAN DALAM AL-QUR'AN (Studi Komparatif antara Pemikiran Ibnu Katsir dan Hamka)</title>
</titleInfo>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>SITI MAEMUNAH</namePart>
<role><roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm></role>
</name>
<typeOfResource manuscript="yes" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
<genre authority="marcgt">bibliography</genre>
<originInfo>
<place><placeTerm type="text">Serang Banten</placeTerm></place>
<publisher>Fakultas Ushuluddin, Dakwah, dan Adab IAIN \&#34;SMH\&#34; Banten</publisher>
<dateIssued>2016</dateIssued>
<issuance>monographic</issuance>
<edition></edition>
</originInfo>
<language>
<languageTerm type="code"></languageTerm>
<languageTerm type="text"></languageTerm>
</language>
<physicalDescription>
<form authority="gmd">Text</form>
<extent>21.5cm, 28cm, 64hlm</extent>
</physicalDescription>
<note>Nama: Siti Maemunah, NIM: 123200155, Judul skripsi: Penafsiran Hafalan Thayyiban Dalam AL-Qur'an (Studi Komparatif antara Pemikiran Ibnu Katsir dan Hamka)

Konsep hafalan thayyiban itu dapat dilihat dalam fenomena yang banyak terjadi sekarang ini seperti karena tuntutan ekonomi, banyak orang mencari rizki tanpa memperhatikan halal dan tidaknya melalui pencurian, perampokan, maupun pembunuhan. Ada juga yang bangga dengan mengikuti pola-pola hidup orang barat dengan memakan yang belum diketahui apakah mnakanan itu dari segi zatnya maupun cara memperolehnya telah diperbolehkan dalam Islam. Meskipun pada dasarnya, semua makanan yang tersedia bagi manusia itu halal hukumnya, kecuali yang dijelaskan keharamannya dalam AL-Qur'an maupun hadits. Namun selama ini, masih banyak orang yang hanya cenderung memperhatikan rasa atau trennya saja mengenai makanan. Tidak hanya itu, melainkan kita harus dijaga pula kehalalan dan gizinya karena makanan sebagai faktor yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode studi pustaka (library research) dengan format desain deksriptif analitis. Kemudian juga menggunakan metode komparatif yang bertujuan untuk membandingkan hasil penafsiran mufasir. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa: penafsiran Ibnu Katsir dan Hamka terhadap halalan thayyiban keduanya sama-sama memiliki kesepakatan bahwa halalan thayyiban dalam hal makanan itu sangat berpengaruh terhadap jasmani dan rohani manusia, tentunya sesuatu faktor yang baik. Namun yang berbeda dari titik tekannya saja, Ibnu Katsir lebih global dalam menafsirkannya, yaitu dapat diterimanya doa dan ibadah seseorang, adapun Hamka lebih terperinci dalam menafsirkan, yaitu dengan perintah Allah tentang halalan thayyiban agar manusia bersyukur, karena dengan memakan makanan halal lagi baik dan sebaliknya dapat memelihara kesehatan dan kehalusan budi pekerti, juga berpengaruh terhadap mimpi.</note>
<subject authority=""><topic>Hafalan Thayyiban</topic></subject>
<classification>SKRIPSI TH 174</classification><identifier type="isbn"></identifier><location>
<physicalLocation>UIN SMH Banten Perpustakaan Pusat</physicalLocation>
<shelfLocator>SKRIPSI TH 174</shelfLocator>
<holdingSimple>
<copyInformation>
<numerationAndChronology type="1">SKRIPSI TH 174</numerationAndChronology>
<sublocation>My Library (RAK 6)</sublocation>
<shelfLocator>SKRIPSI TH 174</shelfLocator>
</copyInformation>
</holdingSimple>
</location>
<recordInfo>
<recordIdentifier>11579</recordIdentifier>
<recordCreationDate encoding="w3cdtf">2017-03-08 09:27:39</recordCreationDate>
<recordChangeDate encoding="w3cdtf">2017-03-08 11:04:58</recordChangeDate>
<recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo></mods></modsCollection>